BEDAH BUKU KARYA AKTIVIS JARINGAN GUSDURIAN SE-INDONESIA DI KLENTENG POO AN KIONG BLITAR.
- Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd

- Dec 30, 2020
- 4 min read
Updated: Dec 31, 2020
BEDAH BUKU KARYA AKTIVIS JARINGAN GUSDURIAN SE-INDONESIA DI KLENTENG POO AN KIONG BLITAR
Oleh: Arif Muzayin Shofwan
Aktivis Jaringan GusDurian Blitar, Salah Satu Penulis Buku,
Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama Blitar.
Email : arifshofwan2@gmail.com
Selamat malam Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari peserta Bedah Buku “Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia” yang telah diselenggarakan aktivis Jaringan GusDurian di 43 titik di propinsi Indonesia dan 4 negara di luar negeri, salah satunya di Klenteng Poo An Kiong Blitar malam ini. Semoga kita semua selalu mendapatkan kebahagiaan, kedamaian, ketentraman dan keberkahan. Acara malam hari ini, bertepatan dengan peringatan Hari Penghapusan Diskriminasi Rasial Sedunia, yang jatuh setiap tanggal 21 Maret.
Kisahnya, pada tanggal 21 Maret 1960 terjadi kerusuhan antara kepolisian dan para demonstran di Sharpeville Afrika Selatan. Para demonstran memprotes hukum yang rasis dan penuh diskriminasi. 69 orang meninggal dunia dan lainnya luka-luka. Baru kemudian pada tahun 1966, Dewan Keamanan PBB menyatakan bahwa tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Penghapusan Rasial Sedunia.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara yang berbahagia...
Perlu diketahui bahwa tersenggaranya acara pada malam hari ini tak luput dari berbagai dukungan para pihak. Dalam istilah Buddhis dikenal dengan “hukum paticcasamupada” (hukum alam yang saling keterkaitan antara satu dengan lainnya). Oleh karena itu, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak terkait, di antaranya:
Pertama, saya patut berterima kasih kepada Pengurus Klenteng Poo An Kiong yang telah sudi memberikan tempat dan fasilitas lainnya dalam acara malam hari ini.
Kedua, saya harus berterima kasih kepada semua teman-teman yang terlibat dalam Forum Persaudaraan Blitar Raya, para sponsor diantaranya: Graha Bagunan, Toko Mas Berkah Arifin, Hotel Patria Plaza, Hotel Puri Perdana, Next Karaoke, Paroki Santo Yusuf Kota Blitar, Paroki Petrus Paulus Wlingi, Bapak Hendra Srikaton, Ryo Foto, dan semua yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu, yang telah mendanakan harta, pikiran, dan tenaga demi terselenggaranya acara bedah buku malam hari ini.
Ketiga, saya berterima kasih tak terhingga kepada Romo Benny yang jauh-jauh dari Jakarta menyempatkan hadir dalam acara yang mudah-mudahan penuh berkah ini.
Terakhir, saya ucapkan terima kasih tak terhingga kepada para peserta bedah buku yang telah ikut berpartisipasi dan meluangkan waktu dalam acara malam hari ini.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudari yang berbahagia...
Dalam buku kumpulan narasi berjudul “Ada Aku di antara Tionghoa dan Indonesia” yang saat ini kita bedah, saya memulai tulisan saya dengan sebuah perenungan sebagai berikut:
“Apakah kita dulu waktu lahir bisa memilih terlahir dalam suku tertentu?. Apakah kita dulu waktu lahir bisa memilih terlahir dalam agama tertentu?. Apakah kita dulu waktu lahir bisa memilih terlahir dalam ras atau etnis tertentu?. Apakah kita dulu waktu lahir bisa memilih terlahir dalam golongan tertentu?. Tidak!, kalau kita dulu waktu lahir saja tidak bisa memilih terlahir dalam suku, agama, ras, dan golongan tertentu, maka sebenarnya hanya ada satu hal untuk bisa membawa bangsa ini berperadaban yang luhur yaitu bersatu padu menjaga kerukunan (patembayatan) sesama manusia.” (Shofwan, 2017).
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara yang berbahagia...
Saya pernah melihat film berjudul “Master of Zen” yang menceritakan penebar Buddha Zen di China dari India Selatan. Dalam film tersebut, Sang Master Buddhadharma pada awal sebelum menjadi seorang pertapa pernah merenung: “Siapakah aku sebelum lahir?. Dan siapakah aku setelah mati?”. Dalam renungan Sang Master Buddhadharma tersebut, izinkanlah saya menjawab dengan sebuah ayat dari Al-Qur’an sebagai berikut :
Artinya: “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan:1).
Lalu, di masa atau saat kapan Arif belum bisa disebut Arif?. Romo Benny belum bisa disebut Romo Benny?. Mas Daniel belum bisa disebut Mas Daniel?. Dan kita semua belum bisa disebut dengan nama kita masing-masing?.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, Saudara-saudara yang berbahagia...
Dalam “Kitab Tsamrotul Fikriyah” sebuah kitab pegangan komunitas Tharikah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah keluaran Pondok Pesantren Peterongan Jombang disebutkan bahwa kita semua berasal dari empat unsur/elemen yang disebut “Alamul Khalqi”, yaitu: tanah, air, api, udara/angin.
Masih ingatkah kalau kita dulu berasal dari sari pati tanah?. Sari pati tanah diserap oleh tumbuhan dan menjadi bahan makanan yang kita makan seperti: beras, jagung, palawija, pala kependem, pala gumandul, dan lain sebagainya. Itu semua juga dimakan oleh hewan-hewan. Baik tumbuhan maupun hewan akhirnya dimakan oleh orang tua kita. Dari sebagian zat yang dimakan oleh orang tua kita kemudian jadilah sperma sebagai benih kita semua.
Dari uraian di atas, tentu kita semua, apapun agamanya, apapun aliran kepercayaannya semua terjadi dari benih yang sama. Oleh karenanya, bagaimana mungkin kita bisa menyombongkan diri hanya karena agama, ras, suku, budaya, dan semacamnya. Akhir kata, marilah kita realisasikan sesanti Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharwa Mangrwa, artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua, dan tiada kebenaran yang mendua. Salam sejahtera. []
----------------------------------------
Diterbikan oleh BALITARA
Visi Balitara
Menjadi lembaga sosial yang unggul dan profesional di bidang kemanusiaan, kesenian dan, kebudayaan, pendidikan, kewirausahaan, kepariwisataan dan keagamaan untuk membangun sumber daya manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, berkarakter dan berintegritas tinggi.
Misi Balitara
1. Menyelenggarakan berbagai layanan sosial kemanusiaan untuk membantu masyarakat dalam berbagai macam bidang.
2. Mengorganisir, mengeloladan bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait kesenian dan kebudayaan.
3. Menyelenggarakan dan mengelola berbagai macam kegiatan pendidikan, pelatihan,dan keagamaan yang berkualitas.
4. Mewujudkan kesejahteraankehidupan masyarakat melalui kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan sumber ekonomi kreatif lainnya.
5. Menggali, mengelola, dan mengembangkan potensi-potensi pariwisata dalam tingkat lokal maupun nasional.
Alamat Balitara
Sanggar Patembayatan Balitara, Jl Masjid Baitul Makmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan Kanigoro Blitar Kode Pos 66171 Jawa Timur Indonesia. Kontak Person: Head of Public Relations BALITARA, Dhimas Ardiansyah 081232410001.



Comments