NGELMU KELAKONE KANTI LAKU
- Dhimas Ardiansyah
- Jan 21, 2021
- 4 min read
NGELMU KELAKONE KANTI LAKU
Oleh: Dhimas Ardiansyah
Public Relations, dan Anggota BALITARA
Email :dard2197@gmail.com
NGELMU IKU KALAKONE KANTI LAKU (ilmu pengetahuan hanya akan bermanfaat jika dipraktekkan). Ya begitulah yang dituturkan oleh salah seorang penasehat BALITARA (identitas disembunyikan). Pada kesempatan tulisan saya kali adalah penjabaran dari beliau yang saya ringkas.

Menjelang Hari Raya Saraswati yang jatuh pada tanggal 30 Januari 2021. Hari Raya Saraswati diperingati setiap enam bulan sekali atau 210 hari sekali pada hari Sabtu Legi (penanggalan jawa) / Saniscara Umanis. Dewi Saraswati merupakan salah satu dari tiga Dewi inti dalam keyakinan Hindu selain Dewi Sri (Laksmi) dan Dewi Uma (Durga).
Petikan dari sebuah sastra kuno mengatakan sebagai berikut:
“Ring widyā wiṣa tulya dénikang anabhyāsālasang sampĕnĕh, ……”
Terjemahan:
Ilmu pengetahuan hanya akan menjadi racun bagi mereka yang tidak terbiasa dan malas untuk mempraktekkannya, ……. (Kekawin Nitisastra, I.3)
Canakya Nitisastra IV.15 juga mengatakan hal yang sama:
"anabhyāse viṣaṁ ṡāstram ajīrṇe bhojanaṁ viṣam, daridrasya viṣaṁ goṣṭhī vṛddhasya taruṇī viṣam"
Terjemahan:
Ilmu pengetahuan yang tidak dipraktekkan akan menjadi racun. Makanan yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga merupakan racun. Bagi orang bodoh, pergaulan dengan banyak orang adalah racun. Perempuan muda bagi mereka yang sudah tua renta adalah racun.
Dan sebagaimana disebutkan dalam Serat Wedhatama III.1 (tembang pucung):
"ngelmu iku kalakone kanti laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budaya pangekese dur angkara."
terjemahan:
Ilmu itu harus dijalankan dengan perbuatan/praktek. Dengan kemauan dan niat yang tulus sebagai kekuatan budi dan kebenaran sebagai penghancur keangkaramurkaan.
Mereka yang kurang berpengetahuan dalam berbahasa biasanya akan sulit dalam bergaul dengan orang lain. Kemampuan dalam mengolah bahasa diibaratkan seperti meracik makanan dengan enam rasa atau sadrasa yaitu manis, asam asin, pedas, pahit dan sepat. Kapan harus mengolahnya dengan rasa manis, atau kapan dengan rasa lainnya, maka dibutuhkan suatu kemampuan.
Sekarang ini banyak sekali orang yang menguasai keilmuan akan tetapi tidak berbanding lurus dengan perilakunya. Ilmu yang mereka kuasai hanya sebatas di mulut dan di kertas saja. Banyak bicara tetapi miskin penerapannya. Bila diminta bicara bisa sampai berjam-jam, dan tiada bukti di masyarakat. Banyak sekali mereka-mereka yang berpendidikan tinggi dengan gelar sederet namun tidak mampu menjaga “ajining diri”. Bicara semaunya, bicara seenaknya yang justru berakibat merendahkan dirinya sendiri.
Mereka yang banyak bicara saja dan tanpa aktualisasi dari apa yang sedang dia bicarakan maka dalam peribahasa Jawa berbunyi “kakehan gludug kurang udan” artinya “terlalu banyak petirnya tetapi hujannya kurang”. Dalam Bahasa Indonesia berbunyi “tong kosong nyaring bunyinya”, orang-orang yang seperti ini akan sangat mudah berkata-kata, mudah berjanji tetapi jarang ditepati, ibarat kata hanya pepesan kosong belaka. Mereka menyembunyikan kebodohannya dengan berlagak angkuh, sok tahu, dan banyak bicara namun tidak menarik untuk didengar.
Petikan Kakawin Nitisastra, I.9
“………Ring janmālpaka śāstra garwita tĕrĕh śabdanya tanpāmrĕta.
“…….Orang yang sedikit pengetahuannya biasanya angkuh, bicaranya keras dan sama sekali tidak menarik hati”
Orang dikatakan berilmu bila dia bisa “nglakoni”, artinya secara nyata mempraktekkannya dan dengan disertai “wiweka” (kebijaksanaan). Manusia berbeda dengan binatang, manusia dibekali dengan wiweka yang diharapkan bahwa manusia bisa membedakan antara yang baik dengan yang buruk. Dengan wiweka maka manusia bisa memikirkan apa yang baik dan harus dilakukan dan apa yang tidak seharusnya dilakukan.
Kalimat bijak:
“Pengetahuan itu bagaikan susu yang kaya dengan nutrisi kehidupan, namun jika hanya sebatas diseduh saja dalam gelas (hanya sebatas pengetahuan di dalam pikiran) dan tidak diminum (tidak diaktualisasikan atau dipraktekkan) maka nutrisi kehidupan itu akan sia-sia saja karena tidak merasuk dalam urat nadi kehidupan masyarakat”
Penguasaan ilmu pengetahuan yang tanpa disertai dengan kebijaksanaan maka bisa berakibat salah dalam penggunaan ilmu pengetahuan tersebut. Misal saja seperti tokoh teroris yang sudah mati yaitu Dr.Azhari; dia adalah seorang doktor dibidang fisika dan kimia yang tidak mempraktekkannya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat namun justru sebaliknya mempraktekkannya untuk membuat bom untuk aksi teror.
Jika kita ahli berbisnis, makmur dan bahagia; ajarkan ilmu itu kepada orang lain agar orang lain pun sejahtera dan makmur seperti kita, jangan justru mengambil setiap peluang dan kesempatan hanya untuk kesejahteraan dan kemakmuran diri sendiri tanpa memberikan kesempatan itu kepada orang lain. Begitu juga dengan keahlian lainnya hendaknya semaksimal mungkin menjadi bermanfaat bagi orang lain.
Orang yang berilmu (juga berwiweka) akan mampu menjaga setiap pemikiran, kata-kata dan perilakunya; dengan begitu dia mampu menjaga “ajining diri” nya sendiri juga diri orang lain. Dia akan mampu menelaah apakah pemikiran, kata-kata dan perilakunya bermanfaat atau justru malah merugikan atau menyakiti orang lain. Orang yang berilmu akan selalu berusaha menjaga keberadaannya untuk selalu bermanfaat bagi orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Dia akan selalu berusaha untuk mengaktualisasikan pengetahuannya untuk kebaikan bersama.
Semoga kita selalu diberikan ilmu yang bermanfaat baik untuk diri kita maupun untuk makhluk lain, dan senantiasa diberikan kesehatan jasmani dan rohani agar selalu dapat menyebarkan ilmu kebaikan kepada alam semesta.
Amin. []
----------------------------------------
Dikeluarkan oleh BALITARA
Visi Balitara
Menjadilembagasosial yang ungguldan profesional dibidang kemanusiaan, keseniandan, kebudayaan, pendidikan, kewirausahaan, kepariwisataandan keagamaanuntukmembangunsumberdaya manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, berkarakterdanberintegritastinggi.
Misi Balitara
1. Menyelenggarakanberbagailayanansosialkemanusiaandalammembantumasyarakat dalam berbagai macam bidang.
2. Mengorganisir,mengeloladanbekerjasamadenganberbagaipihak yang terkait keseniandan kebudayaan.
3. Menyelenggarakandanmengelolaberbagaimacamkegiatan pendidikan, pelatihan,dan keagamaan yang berkualitas.
4. Mewujudkankesejahteraankehidupanmasyarakatmelaluikewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dansumberekonomikreatiflainnya.
5. Menggali, mengelola, danmengembangkanpotensi-potensipariwisatadalamtingkat lokal maupun nasional.
Alamat Balitara
Sanggar Patembayatan Balitara, Jl Masjid Baitul Makmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan Kanigoro Blitar Kode Pos 66171 Jawa Timur Indonesia. Kontak Person: Head of Public Relations BALITARA, Dhimas Ardiansyah 081232410001.



Comments