top of page

MENGGALI KITAB-KITAB SASTRA KUNO KE KEDIAMAN MBAH H.M. SHOBIR HARJONO PLOSOKEREP SANANWETAN BLITAR

MENGGALI KITAB-KITAB SASTRA KUNO KE KEDIAMAN MBAH H.M. SHOBIR HARJONO PLOSOKEREP SANANWETAN KOTA BLITAR

Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Warga Balitara

Email: arifshofwan2@gmail.com.


Pada hari Sabtu, 02 Januari 2020, saya dan Mas Okky sowan kepada Mbah H.M. Shobir Harjono (usia 95 tahun) yang bertempat tinggal di Plosokerep, Sananwetan, Kota Blitar. Kami saling bercerita, ternyata Mbah H.M. Shobir Harjono berasal dari Gaprang Kanigoro Blitar dan masih mindoan dengan guru saya Mbah Kiai Ali Amir (Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Gaprang) dari jalur Syaikh Abu Hasan Kuningan. Jika Mbah Kiai Ali Amir dari jalur Mbah Kiai Ali Muntaha, maka Mbah H.M. Shobir Harjono dari jalur Mbah Kiai Ali Umar (yang kedua tokoh ini sama-sama dimakamkan di barat Masjid Nurul Huda Kuningan).

Mbah H.M. Shobir Harjono menceritakan bahwa beliau mendapat nama “Shobir” berasal dari Mbah Kiai Haji Muhammad Mundzir Mubasyir (Pendiri Pondok Pesantren Ma’unah Sari Bandarkidul Kediri) yang beliau ini terkenal sebagian dari punjer waliyullah (min ba’dil auliya’ al-aqtab). Ceritanya adalah ketika peristiwa 65’, beliau merupakan anggota RPKAD yang diincar perpolitikan masa itu, dia kemudian sowan kepada Mbah Kiai Haji Muhammad Mundzir Mubasyir (Mbah Kiai Mundzir). Saat di rumah Mbah Kiai Mundzir, - Mbah Kiai Mundzir langsung berkata: “Kowe arep dipateni tho?. Lan kowe wedi mati tho?. Lek wedi mati, jenengmu tak ganti Shobir ben slamet. Jenengmu tak ganti Shobir ben slamet” Akhirnya, dari kisah inilah nama beliau berganti Shobir Harjono.

Berawal dari peristiwa itulah, Mbah H.M. Shobir Harjono dekat dengan Gus Miek, mengenal dan belajar ajaran Syaikh Abdul Madjid Ma’ruf (Shalawat Wahidiyah), para kiai dan semacamnya. Sebab Mbah Kiai Mundzir jaman itu memang dekat dengan Gus Miek (Ploso) dan Syaikh Abdul Madjid Ma’ruf (Kedunglo), walaupun ketiganya memiliki tautan usia yang cukup jauh. Bahkan, walau ketiga orang ini memiliki tautan usia yang cukup jauh, ketiganya sering disebut “Tiga Serangkai” karena saking dekatnya. Ketiganya pun juga memiliki wilayah dakwah sendiri-sendiri, dengan penjelasan berikut:

1. Kiai Haji Muhammad Mundzir Mubasyir, wilayah dakwahnya dengan mendirikan Pondok Pesantren Ma’unah Sari Bandarkidul Kediri yang khusus pada hafalan Al-Quran (tahfidzul Quran).

2. Syaikh Abdul Madjid Ma’ruf, wilayah dakwahnya adalah dengan menyusun Shalawat Wahidiyah yang berisi ajaran tauhid dan makrifat kepada Allah.

3. Gus Miek, wilayah dakwahnya adalah dengan mendirikan Jantiko Mantab dengan wirid Dzikrul Ghofilin-nya.

Selain itu, Mbah H.M. Shobir Harjono juga banyak berguru “Ilmu Sejati” kepada para tokoh Jawa. Dia juga berguru ajaran makrifat Syaikh Haji Muhammad Siroj Al-Arif Kandat, Kediri. Ada banyak tumpukan kitab-kitab Syaikh Haji Muhammad Siroj Al-Arif (Mursyid Tarekat Akmaliyah) dan kitab lainnya di kediaman beliau, antara lain:

1. Kitab Ushulul Ma’rifat, karya Syaikh Haji Muhammad Siroj Al-Arif

2. Kitab Tanwirul Qulub, karya Syaikh Haji Muhammad Siroj Al-Arif

3. Kitab Hakikatul Makrifat, karya Syaikh Haji Muhammad Siroj Al-Arif

4. Kitab Ambiya, karya Raden Ngabehi Yosodipuro (leluhur dari Raden Ngabehi Ronggowarsito).

5. Kitab Adam Makna, karya Syaikh Muhammad Siroj Al-Arif

6. Dan lainnya

Untuk kitab terakhir berjudul “Kitab Adam Makno” (nomor 5) karya Syaikh Haji Muhammad Siroj Al-Arif ini lalu diberikan kepada saya (kitab bersampul kuning di foto lampiran artikel ini). Selain itu, saya juga diberi foto Mbah H.M. Shobir Harjono waktu muda dan gagah. Kata beliau: “Iki tak wei foto-fotoku sing jik enom nggo kenang-kenangan. Sopo ngerti wong Kardangan ndisik ono sing kenal aku. Sebab soboku ndisik yo ning Kardangan pas trebangan ISHARI”. Aku jelaskan, era itu pusat trebangan ISHARI Sekardangan berada di kediaman kakek saya Mbah Muhammad Irjaz. Beliau lalu mengganggukkan kepala tanda paham dan setuju sembari berkata: “Iya, kidul dalan omah bale gedi.” Selanjutnya, Mbah H.M. Shobir Harjono menceritakan dan mengenang kultur sosial Dusun Sekardangan saat itu.

Ketika saya ajak bicara tentang Pangeran Papak Natapraja (Kiai Ageng R.M. Djojopoernomo) Sang Pendiri Purwa Ayu Mardi Utama (PAMU) yang ayah angkatnya dimakamkan di areal makam keluargaku di Pemakaman Auliya Mbrebesmili Santren Bedali Purwokerto Srengat Blitar, beliau langsung tanggap menjawab: “Oya, Eyang Ponco Suwirya?”. Kataku: “Iya Mbah, itu ayah angkat Pangeran Papak Natapraja (Mbah Wali Papak) dan dimakamkan di areal makam nenek moyangku di Mbrebesmili Santren”. Beliau lalu mengatakan bahwa Mbah wali Papak dan Mbah Wali Tugu itu memiliki keilmuan yang sama. Yang intinya, ilmu tanpa tulis tanpa papan, tapi bisa dibaca (meminjam istilah Syi’ir Tanpo Waton Gus Dur). Dan masih banyak yang harus digali dari Mbah H.M. Shobir Harjono, terutama sejarah perpolitikan dan tokoh spiritual masa lalu, seperti: Eyang Djayus Sumberpucung Malang, Mbah Kiai Hasan Munajat Kesamben Blitar, dan lainnya.

Inilah awal saya menggali dan mencari kitab-kitab satra kuno dari para kiai maupun pujangga kepada Mbah H.M. Shobir Harjono yang ternyata beliau ini dahulu juga dekat dengan kakek saya dan para sesepuh di Sekardangan. Bahkan beliau sangat hafal nama-nama mereka hingga kini. Semoga pertemuan dengan Mbah H.M. Shobir Harjono ini akan berlanjut hingga ke dalam lautan ilmunya. Sebab banyak yang perlu digali dari beliau yang saat ini juga mencatat ilmu-ilmu dari Eyang Pramu (Sananwetan), yakni salah satu guru Bung Karno (Proklamator RI). Semoga Balitara selalu diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Amiin. []

----------------------------------------

Dikeluarkan oleh BALITARA

Visi Balitara

Menjadi lembaga sosial yang unggul dan profesional di bidang kemanusiaan, kesenian dan, kebudayaan, pendidikan, kewirausahaan, kepariwisataan dan keagamaan untuk membangun sumber daya manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, berkarakter dan berintegritas tinggi.

Misi Balitara

1. Menyelenggarakan berbagai layanan sosial kemanusiaan untuk membantu masyarakat dalam berbagai macam bidang.

2. Mengorganisir, mengelola dan bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait kesenian dan kebudayaan.

3. Menyelenggarakan dan mengelola berbagai macam kegiatan pendidikan, pelatihan, dan keagamaan yang berkualitas.

4. Mewujudkan kesejahteraan kehidupan masyarakat melalui kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan sumber ekonomi kreatif lainnya.

5. Menggali, mengelola, dan mengembangkan potensi-potensi pariwisata dalam tingkat lokal maupun nasional.

Alamat Balitara

Sanggar Patembayatan Balitara, Jl Masjid Baitul Makmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan Kanigoro Blitar Kode Pos 66171 Jawa Timur Indonesia. Kontak Person: Ketua Divisi Humas Balitara, Dhimas Ardiansyah 081232410001.


2 Comments


2197dard
Jan 02, 2021

Indonesian history always impressed me.

Like

2197dard
Jan 02, 2021

Good article, keep going on.

Like
bottom of page