top of page

MBAH KIAI SYA’BAN GEMBRANG SERANG HINGGA PANGERAN PAPAK NATAPRAJA (KAJIAN DI MBREBESMILI SANTREN)

MBAH KIAI SYA’BAN GEMBRANG SERANG HINGGA PANGERAN PAPAK NATAPRAJA (SEBUAH KAJIAN DI MBREBESMILI SANTREN)

Oleh: Arif Muzayin Shofwan

Warga Balitara

Email: arifshofwan2@gmail.com.


Pada saat penjajahan kolonial Belanda, ada seorang tokoh wanita yang disegani dalam melawan Belanda. Beliau adalah seorang keturunan Sunan Kalijaga bernama Nyi Ageng Serang, pahlawan nasional yang lahir di Desa Serang, sekitar 40 kilometer sebelah utara Surakarta-Jawa Tengah dekat Purwodadi di pinggir sungai Serang. Nama asli beliau adalah Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edi. Beliau merupakan putri bungsu dari Panembahan Natapraja, penguasa Serang teman seperjuangan Pangeran Mangkubumi (Hamengku Buwono I).


Peter Carey sejarawan dari Universitas Oxford menyatakan bahwa Nyi Ageng Serang merupakan wanita luar biasa keturunan wali agung yang betah laku tirakat, bertapa dan bersemadi di goa-goa, dianugerahi kesaktian batin luar biasa, dan disegani oleh Pangeran Diponegoro. Bahkan saat itu, ada kabar angin yang beredar bahwa Pangeran Diponegoro nantinya akan mengalihkan sebagian wewenang perjuangan melawan Belanda kepada cucu Nyi Ageng Serang yang bernama Arya Papak (Pangeran Papak Natapraja atau kadang dikenal dengan sebutan Mbah Wali Papak).


Artikel ini akan mengungkap tentang mengapa Pangeran Papak Natapraja (cucu Nyi Ageng Serang) pernah hijrah dan hidup cukup lama di daerah Mbrebesmili Santren (Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar) bersama ayah angkatnya yang bernama Eyang Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin). Hingga akhirnya Pangeran Papak Natapraja (Mbah Wali Papak) kemudian hijrah dan wafat di Tojo, Temuguruh, Banyuwangi. Jawaban singkat pertanyaan ini adalah sebagai berikut.


Tersebutlah seorang tokoh spiritual yang dahulu juga pernah melakukan perjuangan bersama Nyi Ageng Serang (nenek dari Pangeran Papak Natapraja) yang bernama Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang. Tokoh ini pada akhirnya hijrah kembali daerah Jarakan, Gondang, Tulungagung. Setelah masa tua, Mbah Sya’ban Gembrang Serang kemudian pindah dan ikut dengan menantunya yang bernama Mbah Kiai Kasan Mujahid (Pendiri Pesantren dan Masjid Baitul Hasanah Mbrebesmili Santen, Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar). Sebab Mbah Kasan Mujahid ini dahulu juga merupakan pejuang dari Kulonprogo yang ikut berjuang dengan Nyi Ageng Serang dan diambil menantu oleh Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang.


Mbah Kiai Kasan Mujahid dari Kulonprogo ke daerah Mbrebesmili Santren (Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar) tidak sendirian. Beliau dahulu bersama salah satu kawan akrabnya yang masih berusia muda bernama Eyang Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin). Perlu diketahui bahwa Eyang Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin) inilah yang merupakan ayah angkat dari Pangeran Papak Natapraja. Dari sinilah sebenarnya kisah mengapa Pangeran Papak Natapraja pernah hidup cukup lama di daerah Mbrebesmili Santren (Bedali Purwokerto Srengat Blitar). Yakni, adanya jejaring-jejaring cukup lama mulai nenek beliau (yakni Nyi Ageng Serang) dengan Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang ketika dahulu melakukan perjuangan melawan Belanda.


Setelah cukup lama hidup di Mbrebesmili Santren (Bedali, Purwokerto, Srengat, Blitar), lalu Pangeran Papak Natapraja hijrah hingga wafat dan dimakamkan Makam Candi Sunyoruri di Tojo Temuguruh Banyuwangi. Sedangkan ayah angkat Pangeran Papak Natapraja yang bernama Eyang Ponco Suwiryo (Sayyid Bukhori Mukmin) dimakam di areal Pemakaman Auliya Mbrebesmili Santren Bedali Purwokerto Srengat Blitar. Adapun tokoh-tokoh yang dimakamkan dalam areal makam tersebut, antara lain:


1. Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang (masyarakat Trenggalek sering menyebut beliau

dengan sebutan Mbah Kiai Abdullah Sya’ban. Sedangkan masyarakat Ponorogo sering

menyebut beliau dengan sebutan Pangeran Sya’ban. Akhir-akhir ini, Mbah Kiai Imam Hambali

Arifin Sang Pendiri Majelis Dzikrul Fatihin sering menyebut beliau dengan sebutan Sayyid

Abdullah Sya’ban. Sementara, beberapa masyarakat ada yang menyebut dengan sebutan

Mbah Kiai Ageng Muhammad Sya’ban).

2. Mbah Kiai Muhammad Asrori (yakni putra tertua dari Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang

serta Pendiri Pesantren dan Masjid Al-Asror Kedungcangkring, Pakisrejo Blitar)

3. Mbah Kiai Kasan Mujahid (yakni menantu dari Mbah Kiai Sya’ban Gembrang Serang dari

putrinya yang terakhir bernama Nyai Marfu’atun)

4. Eyang Ponco Suwiryo atau Sayyid Bukhori Mukmin (ayah angkat Pangeran Papak

Natapraja).

5. Mbah Imam Kastawi dan istrinya.

6. Mbah Imam Nawawi dan istrinya.

7. Mbah Abdul Alim

8. Mbah Banjir

9. Dan beberapa makam generasi berikutnya.


Demikianlah sekelumit kisah dari jawaban tentang mengapa Pangeran Papak Natapraja pernah hidup cukup lama di daerah Mbrebesmili Santren Bedali Purwokerto Srengat Blitar. Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat bagi mereka yang membutuhkan. Akhir kata, tiada gading yang tak retak, dan manusia merupakan tempat salah dan lupa. Mudah-mudahan Balitara selalu diberkahi dan diberi kemudahan tak terhingga oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. []


----------------------------------------

Dikeluarkan oleh BALITARA

Visi Balitara

Menjadi lembaga sosial yang unggul dan profesional di bidang kemanusiaan, kesenian dan, kebudayaan, pendidikan, kewirausahaan, kepariwisataan dan keagamaan untuk membangun sumber daya manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, berkarakter dan berintegritas tinggi.

Misi Balitara

1. Menyelenggarakan berbagai layanan sosial kemanusiaan untuk membantu masyarakat dalam berbagai macam bidang.

2. Mengorganisir, mengelola dan bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait kesenian dan kebudayaan.

3. Menyelenggarakan dan mengelola berbagai macam kegiatan pendidikan, pelatihan, dan keagamaan yang berkualitas.

4. Mewujudkan kesejahteraan kehidupan masyarakat melalui kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan sumber ekonomi kreatif lainnya.

5. Menggali, mengelola, dan mengembangkan potensi-potensi pariwisata dalam tingkat lokal maupun nasional.

Alamat Balitara

Sanggar Patembayatan Balitara, Jl Masjid Baitul Makmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan Kanigoro Blitar Kode Pos 66171 Jawa Timur Indonesia. Kontak Person: Head of Public Relations BALITARA, Dhimas Ardiansyah 081232410001.


Comments


bottom of page