top of page

LIMA MATERI DISKUSI BALITARA

LIMA MATERI DISKUSI BALITARA

Oleh: Alfino Wibowo dan Octavia Vitta Sari

Ketua Devisi Pendidikan Balitara dan Sekretaris Balitara


SALAH SATU FOTO KEGIATAN DISKUSI RUTIN BALITARA


Salah satu agenda rutin Balitara adalah diskusi yang dilaksanakan pada setiap dua minggu sekali, pada hari Sabtu (malam Minggu) pukul 19.00 WIB-selesai di Sanggar Patembayatan Balitara dengan alamat Jl. Masjid Baitul Makmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan Kanigoro Blitar. Adapun lima materi diskusi yang pernah dibahas adalah sebagai berikut:


Pertama, bertema “Dharma Manungso” yang disampaikan oleh Suyani, S.T dan dimoderatori oleh Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd. Kata Dharma yang diambil dari sebuah istilah dalam bahasa Sanksekerta yang berarti kewajiban, kebenaran dan aturan. Adapun istilah manusia dalam bahasa Jawa adalah manungso yang berarti manunggaling roso, yaitu bersatunya rasa jiwa dan raga yang merupakan wujud dari kesejatian. Jadi Dharma Manungso adalah tugas atau kewajiban menjadi manusia. Hal yang dibahas mengenai dharma manungso adalah bahwa paham manusia mengandung materialisme, idealisme, rasionalisme, dan irasionalisme. Yang mewadai manusia sebagai khalifah di bumi dengan berbagai macam paradoksnya, sehingga ada beberapa hal yang perlu digarisbawahidalam diskusi ini:

1. Tugas manusia adalah menjalankan kehidupannya sebaik mungkin sebagai contoh apabila kita menjadi seorang petani, kita harus berupaya sebaik mungkin merawat palawija, sehingga mendapatkan hasil panen yang baik juga.

2. Tugas manusia adalh harus menjadi rahmatan lil alamin artinya yang merupakan rahmat bagi alam semesta, yang hendaknya menebarkan kasih sayang terhadap mahluk dan alam.


PAMFLET DHARMO MANUNGSO


Kedua, bertema “Ageman Jawa” yang disampaikan oleh Mbah Jawoko dan dimoderatori oleh Donius Indradi. Kata ageman berarti pakaian, sehingga kita dapat memultitafsirkan bahwa ageman bukan sekedar pakaian orang Jawa jaman dahulu saja, melainkan sebuah identitas Jawa yang harus di pegang teguh oleh masyarakat Jawa khususnya. Ageman Jawa ada dua yaitu: (1) ageman konkrit, misalnya baju surjan, keris, blankon, dan lainnya; (2) ageman non konkrit, misalnya unggah-ungguh yang merupakan tatakrama ciri khas yang diajarkan sesepuh Jawa secara turun-menurun; petuah luhur contoh “Aja Adigang Adigung Adiguna”, “Wong Ngalah Luhur Wekasane”, “Memayu Hayuning Bawana”, “Ambrasta Durh Angkara”, “Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti”. Dengan tema tersebut kita sebagai orang Jawa agar tidak lupa akan jati diri sebagai orang Jawa.


PAMFLET AGEMAN JAWI

Ketiga, bertema “Jamus Kalimasada” disampiakan oleh Mbah Kholik dari Malang dan dimoderatori oleh Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd. Jamus Kalimasada merupakan pusaka dari tokoh wayang bernama Prabu Kuntadewa yang memiliki makna istilah “jamus” berarti hitam yang melambangkan setya, pinter, santosa, dalam dan kosong. Sedangkan kata “kalimasada” diambil dari kata kalima berarti driji lima (lima jari) dan “sada” adalah obat. Dalam konteks Islam, Jamus Kalimasada berarti Kalimat Syahadat yang memiliki tiga rukun, yaitu: (1) Bil Lisan, artinya diucapkan dengan lisan; (2) Bil Qolbi, artinya diyakini dengan hati; dan (3) Bil Hal, artinya dilakukan dengan perbuatan.


PAMFLET JAMUS KALIMASADA

Keempat, bertema “Hasta Brata” yang disampaikan oleh Ki Soenarto Timoer dan dimoderarori oleh Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd. Hasta Brata adalah delapan petuah luhur sifat kepemimpinan. Delapan petuah tersebut merupakan simbol yang ada di alam yang memiliki makna filosofi sebagai berikut:

1. Bumi, berarti pemimpin harus bisa menjadi pijakan bagi orang yang dipimpin.

2. Matahari, berarti sumber kehidupan bagi makhluk yang ada di bumi sehingga pemimpin diharapkan dapat menjadi segala sumber yang dipimpin.

3. Bintang, berarti navigasi alam, sehingga pemimpin diharapkan menjadi penunjuk arah bagi siapapun yang dipimpin.

4. Angin, berarti memiliki sifat dapat menempati dimana pun berada, sama halnya dengan sifat pemimpin yang harus dapat menempatkan dirinya dimanapun berada atau dalam bahasa Jawanya, empan ing papan.

5. Api, berarti dapat membakar apa saja, maka dalam khasanah filsafat Jawa api dapat dimaknai sebagai sifat yang tegas dan lugas sehingga dapat cekatan dan tegas dalam menyelesaikan persoalan.

6. Air, berarti menempati tempat yang rendah, begitu juga pemimpin, ia harus rendah hati dan tidak semena-mena.

7. Bulan, berarti penerangan pada malam hari yang dari segi filosofisnya bulan adalah seorang pemimpin harus menjadi pencerah bagi yang dipimpin dan memiliki sifat memantulkan cahaya sehigga harus dapat menjadi penerima aspirasi yang baik.

8. Samudra, berarti luas dan lapang, sehingga pemimpin mampu menerima kritik dengan lapang dada dan siap menerima saran dari siapapun sehingga dia dapat menerapkan tidakan “tidak melihat siapa yang berbicara melainkan melihat apa yang dibicarakan”.


PAMFLET HASTA BRATA

Kelima, bertema “Wahyu Tohjali”, disampaikan oleh Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd. dan dimoderatori oleh Alfino Wibowo. Tohjali berasal dari kata Toh dan Jali. Kata Toh berarti pertaruhan atau jaminan dan kata Jali diambil dari kata Jalu yang berarti anak. Wahyu Tohjali merupakan sebuah cerita pewayangan tentang perebutan takdir turunnya wahyu yang seharusnya turun kepada Raden Arjuna dan Bethari Dhurga menginginkan takdir wahyu tohjali diberikan kepada anaknya yaitu Dewa Srani. Dari situ, sehingga Bethari Dhurga memohon kepada suaminya sendiri yaitu Bethara Guru. Namun tetap saja wahyu itu turun kepada Raden Arjuna, sehingga dapat diambil makna filosofisnya bahwa wahyu adalah amanah yang dijalankan dengan penuh tanggungjawab yang pada dasarnya adalah kepercayaan dari Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan respresentasi kekuasaan yang hakiki.


PAMFLET WAHYU TOHJALI

----------------------------------------

Dikeluarkan oleh BALITARA

Visi Balitara

Menjadilembagasosial yang ungguldan profesional dibidang kemanusiaan, keseniandan, kebudayaan, pendidikan, kewirausahaan, kepariwisataandan keagamaanuntukmembangunsumberdaya manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, berkarakterdanberintegritastinggi.

Misi Balitara

1. Menyelenggarakanberbagailayanansosialkemanusiaandalammembantumasyarakat dalam berbagai macam bidang.

2. Mengorganisir,mengeloladanbekerjasamadenganberbagaipihak yang terkait keseniandan kebudayaan.

3. Menyelenggarakandanmengelolaberbagaimacamkegiatan pendidikan, pelatihan,dan keagamaan yang berkualitas.

4. Mewujudkankesejahteraankehidupanmasyarakatmelaluikewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dansumberekonomikreatiflainnya.

5. Menggali, mengelola, danmengembangkanpotensi-potensipariwisatadalamtingkat lokal maupun nasional.

AlamatBalitara

Sanggar Patembayatan Balitara, Jl Masjid BaitulMakmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 PapunganKanigoroBlitar Kode Pos 66171 Jawa Timur Indonesia. Kontak Person : Head of Public Relations BALITARA, Dhimas Ardiansyah 081232410001.

Comments


bottom of page