PENGANTAR KAJIAN KITAB AL-HIKAM KARYA SYAIKH AHMAD IBNU ATHAILLAH AS-SAKANDARI
- Dr. Arif Muzayin Shofwan, M.Pd

- Jan 6, 2021
- 3 min read
KAJIAN KITAB AL-HIKAM KARYA SYAIKH AHMAD IBNU ATHAILLAH AS-SAKANDARI
Oleh: Arif Muzayin Shofwan
Warga Balitara
Email: arifshofwan2@gmail.com
Kajian pengantar Kitab Al-Hikam ini pernah saya sampaikan pada acara “Buka Bersama di The Post Institute Blitar”, pada hari Ahad, 28 Juni 2014. Kitab Al-Hikam disusun oleh Syiakh Ahmad Ibnu Athaillah As-Sakandari. Seorang ulama generasi ketiga Tarekat Syadziliyah, beliau murid dari Syaikh Abul Abbas Al-Mursi. Kitab Al-Hikam berisi 127 kata mutiara. Walau kitab ini tidak membicarakan secara sistematis ilmu tasawuf sebagaimana ulama tasawuf lain, tetapi di dalamnya membahas makam-makam atau tingkatan-tingkatan spiritual dengan ciri khas bahasa hikmahnya. Makam-makam spiritual tersebut, antara lain:
Pertama, Makam taubat, yakni makam atau tingkatan pertama bagi Salik (penempuh jalan Tuhan) sebelum mencapai makam-makam lain. Ketika kita taubat itu merupakan anugerah (fadhal) dari Allah SWT. Jadi ketika melakukan taat (disyukuri), ketika melakukan maksiat (ditaubati).
Kedua, Makam zuhud, makam atau tingkatan zuhud ada dua, yaitu: [1] zuhud zahir jali, yakni zuhud dari perbuatan berlebihan dalam perkara halal seperti pakaian, makanan, dll. [2] zuhud batin khofi, yakni zuhud dari bentuk kepemimpinan, cinta dipuja-puja, dan lain-lain. Inti zuhud adalah tidak terlalu bahagia ketika kenikmatan didapat, dan tidak bersedih ketika kenikmatan tidak didapat.
Ketiga, Makam sabar, makam atau tingkatan sabar ada tiga, yaitu: [1] sabar pada perkara haram, ini adalah hak manusia. [2] sabar pada kewajiban, ini adalah hak hak Allah. [3] sabar pada angan-angan dan usaha, ini adalah meniadakan Allah.
Keempat, Makam syukur, makam atau tingkatan syukur tiga, yaitu: [1] syukur lisan “fa amma binikmati robbika fa haddist”, artinya adapun dengan nikmat Tuhanmu, maka ceritakanlah. [2] syukur dengan anggota tubuh, yakni diimplementasikan dalam bentuk ketaatan. [3] syukur dengan hati, yakni segala nikmat berasal dari Allah.
Kelima, Makam khauf (takut), yakni Salik (penempuh jalan Tuhan) merasa takut akan sirnanya “hal” dan “makam”, sebab dia tahu bahwa Allah memiliki kepastian hukum dan kehendak.
Keenam, Makam roja’ (pengharapan), yakni masih berkaitan erat dengan nomor lima di atas. Kita boleh memiliki pengharapan pahala kepada Allah SWT, tetapi jangan hanya berharap tanpa ada rasa takut (khauf) dari siksaan Allah SWT.
Kelima, Makam ridha (rela; lilo legowo), yakni rela menerima takdir Tuhan baik ataupun buruk. Rela terhadap apa saja yang diperlakukan Allah SWT kepada dirinya tanpa rasa mengeluh atau keluh kesah. Atau walau ada, dapat diminimalisir.
Keenam, Makam tawakkal (pasrah), yakni berserah diri pada Allah bahwa segala sesuatu bertumpu pada kehendak (iradah) Allah, dan irodah Allah tersebut tidak bersandar pada apapun, apakah bersandar pada taat atau maksiat.
Ketujuh, Makam mahabbah (cinta), yakni makam tertinggi dalam pandangan kaum sufi (ahli tasawuf). Cinta sejati tidak untuk mengharapkan balas budi. Melakukan zikir karena cinta, bukan karena ingin ini dan itu.
Adapun cara untuk mengekspresikan cinta itu bermacam-macam. Mungkin di antara cara mengekspresikan cinta dapat dilihat dari cara kaum Tarekat Wahidiyah dengan Tasyaffu’-nya, kaum Tarekat Maulawiyah dengan Tarian Whirling-nya, kaum Tarekat Qodiriyyah, Naqsyabandiyah dengan zikirnya, dan lain sebagainya. Carilah jalan mengekspresikan cinta menurut hati nurani kalian (ini hanya masalah kecocokan), serta tidak menyalahkan jalan yang lain.
Ada sebuah ungkapan: “at-thuruq ilallahi ka adadi anfasil khalqi” (artinya, jalan menuju Allah itu bagaikan banyaknya nafas makhluk). Semoga kajian penghantar Kitab Al-Hikam karya Syaikh Ahmad Ibnu Athoillah As-Sakandari ini bisa menambah ketaatan kita kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Semoga bermanfaat di kehidupan ini dan kehidupan mendatang. Amin Ya Rabbal Alamin. []
----------------------------------------
Dikeluarkan oleh BALITARA
Visi Balitara
Menjadi lembaga sosial yang unggul dan profesional di bidang kemanusiaan, kesenian dan, kebudayaan, pendidikan, kewirausahaan, kepariwisataan dan keagamaan untuk membangun sumber daya manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, berkarakter dan berintegritas tinggi.
Misi Balitara
1. Menyelenggarakan berbagai layanan sosial kemanusiaan untuk membantu masyarakat dalam berbagai macam bidang.
2. Mengorganisir, mengelola dan bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait kesenian dan kebudayaan.
3. Menyelenggarakan dan mengelola berbagai macam kegiatan pendidikan, pelatihan, dan keagamaan yang berkualitas.
4. Mewujudkan kesejahteraan kehidupan masyarakat melalui kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan sumber ekonomi kreatif lainnya.
5. Menggali, mengelola, dan mengembangkan potensi-potensi pariwisata dalam tingkat lokal maupun nasional.
Alamat Balitara
Sanggar Patembayatan Balitara, Jl Masjid Baitul Makmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan Kanigoro Blitar Kode Pos 66171 Jawa Timur Indonesia. Kontak Person : Head of Public Relations BALITARA, Dhimas Ardiansyah 081232410001.



Comments