HAKEKAT HAI ' ATUL MAKNUN
- Mamik Jatmiko

- Jan 14, 2021
- 4 min read
HAKEKAT HAI ' ATUL MAKNUN
Oleh: Mbah Mamik Jatmiko
Sesepuh Pencerah Warga Balitara
Email : mamjat59@gmail.com
Hai'atul Maknun, mungkin terdengar sedikit asing di telinga kita, secara harfiah hai'atul maknun mempunyai artian "perhiasan yang sangat indah". Lanta apa yang akan kita bahas kali ini mari kita simak bersama.
Abu Hurairah, berkata :
"Aku menyimpan ilmu (hadits) dari Rasulullah SAW pada dua wadah. Yang satu aku sebarkan dan sampaikan, yang satu lagi sekiranya aku sampaikan maka akan terputuslah tenggorakan ini". (HR. BUKHARI)
Sangat sulit menjelaskan Hakekat dan Ma' rifat kepada orang-orang yang mempelajari agama Islam hanya pada tataran ilmu Syareat saja , menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal Hakekat dari Al-Qur’an itu adalah Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara. Dengan Nur itulah Rasulullah SAW memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Allah SWT.
Rasulullah SAW mendapatkan wahyu dari Allah / Kalamullah tanpa suara , rupa dan tulisan (tanpo papan tanpo tulis). Hafalan tetaplah hafalan dan itu tersimpan di otak yang dimensinya rendah tidak akan mampu menjangkau Hakekat Allah, otak itu baharu sedangkan Allah itu adalah Qadim sudah pasti Baharu tidak akan sampai kepada Qadim. Kalau kita cuma belajar dari dalil dan mengharapkan bisa sampai ke hadirat Allah SWT dengan dalil yang kita miliki maka mustahil kita akan sampai atau Wusul kehadirat-Nya. Ketika tidak sampai kehadirat-Nya yg sebatas hanya mempelajari ilmu dasar Syareat saja , sdh pasti akan sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah ber ma'rifat , bisa berjumpa dan melihat atau menyaksikan Nur Allah dan juga Nur Muhammad , dan menganggap itu sebuah kebohongan.
Sudah pasti akan mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli Ma"rifat tersebut , dengan dalil yang menurutnya sudah benar. Padahal kadangkala dalil yang di sampaikan untuk membantah justru sangat mendukung ucapan para Ahli Ma'rifat tsb. Mata hatinya msh tertutupi atau dibutakan oleh hawa nafsu , dalam Al-Qur’an hal ini disebut "Qatamallahu ‘ala Qukubihum" (Tertutup mata hati mereka) itulah hijab yang menghalangi kita menuju Tuhan Allah SWT.
FIRMAN ALLAH SWT :
Barang siapa yg di dunia ini buta (mata hatinya) maka di akheratpun akan lebih buta dan sesat jalannya. (QS. AL - ISRAA 17 : 72)
Rasulullah SAW menggambarkan Ilmu Hakekat dan Makrifat itu sebagai perhiasan yang sangat indah. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah bahwa :
Rasulullah SAW Bersabda :
”Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan, yang tidak ada seorangpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berdzikir kepada Allah)." (HR. ABU ABDIR RAHMAN AS-SALAMY)
Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut Nabi bahwa ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali para Ulama Allah yakni Ulama yang selalu berdzikir dkepada Allah dengan segala konsekwensinya dan ta cukup hanya sebatas dzikir billisan yg diucapkan saja. Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi yakni ilmu Ma'rifatullah.
Awaludin Ma'rifatullah (Awal beragama adalah dengan mengenal Allah). Masih ingatkah kita akan cerita nabi Musa dengan nabi Khaidir yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah untuk anak yatim piatu , untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah , kalau rumah tersebut dibiarkan ambruk maka emasnya akan dicuri oleh perampok , harta tersebut tidak lain adalah ilmu Hakekat Ma'rifat yang sangat tinggi nilainya , dan rumah yang dimaksud adalah ilmu Syariat yang harus tetap dijaga untuk membentengi agar ilmu Hakekat Ma'rifat tidak jatuh ke tangan yang tidak berhak menerimanya.
Semakin tegas lagi pengertian di atas dengan adanya Hadist Nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut :
"Aku telah hafal dari Rasulullah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebar luaskan kepada sekalian manusia (ILMU SYAREAT) Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebar luaskan kepada semua manusia, ilmu yang seperti perhiasan yang indah. Maka apabila ilmu ini aku sebar luaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku , engkau menghalalkan darahku. (HR. THABRANI)
Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, dengan demikian barulah kita sadar sekarang , mengapa banyak orang yang tidak bisa menerima Ilmu Ma'rifatullah? karena ilmu itu memang amat berharga seperti perhiasan yang indah sehingga tidak sembarang orang dapat menerimanya, sahabat nabi saja tidak diizinkan untuk menyampaikan secara umum kepada semua orang dan harus melihat seseorang tersebut secara khusus.
Sekiranya ada sinyal-sinyal ke Tauhidan yang bisa menangkapnya yang artinya ada wadahnya atau rnendapat hidayah langsung dari Allah SWT, barulah ilmu yang berharga ini boleh di sampaikan, karena ilmu ini harus diturunkan dan mendapat izin dari Nabi, dan dari Nabi izin itu diteruskan kepada para sahabat Nabi , terus kepada para Aulia Allah yg telah diberi hidayah oleh Allah dan trs sambung menyambung hingga sekarang dan sampai akhir zaman nanti. Zaman itu tdk berubah , yg berubah adalah sikap dan tingkah laku manusianya itu sendiri.
Jika ilmu, hai’ atul maknun itu disebarkan kepada orang awam yang belum liqa' Allah melalui prosesi tawajjuh atau sasyahidan (Penyaksian), sebagaimana telah di firmankan dalam Al-Qur’an surat Al - ‘Ala , orang-orang yang cuma Ahli Syareat semata-mata , maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa ilmu jenis kedua ini yakni hakikat dan makrifat adalah bid’ah dlolalah. Dan mereka ini mempunyai i’tiqat bahwa ilmu yang kedua tersebut jelas diingkari oleh syara’, padahal tidak demikian, bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari daripada ilmu yang pertama artinya ilmu Hakekat Makrifat itu adalah intisari dari pada ilmu syareat.
Selamat malam semoga bisa menambah
pengetahuan dan wawasan kita tentang Islam.
Aamiin Ya Robbal Alamin.
[]
----------------------------------------
Dikeluarkan oleh BALITARA
Visi Balitara
Menjadi lembaga sosial yang unggul dan profesional di bidang kemanusiaan, kesenian dan, kebudayaan, pendidikan, kewirausahaan, kepariwisataan dan keagamaan untuk membangun sumber daya manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, berkarakter dan berintegritas tinggi.
Misi Balitara
1. Menyelenggarakan berbagai layanan sosial kemanusiaan untuk membantu masyarakat dalam berbagai macam bidang.
2. Mengorganisir, mengelola dan bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait kesenian dan kebudayaan.
3. Menyelenggarakan dan mengelola berbagai macam kegiatan pendidikan, pelatihan, dan keagamaan yang berkualitas.
4. Mewujudkan kesejahteraan kehidupan masyarakat melalui kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan sumber ekonomi kreatif lainnya.
5. Menggali, mengelola, dan mengembangkan potensi-potensi pariwisata dalam tingkat lokal maupun nasional.
Alamat Balitara
Sanggar Patembayatan Balitara, Jl Masjid Baitul Makmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan Kanigoro Blitar Kode Pos 66171 Jawa Timur Indonesia. Kontak Person : Head of Public Relations BALITARA, Dhimas Ardiansyah 081232410001.



Comments