top of page

FILOSOFI HIDUP MASYARAKAT JAWA

FILOSOFI HIDUP MASYARAKAT JAWA

Oleh: M. Nur Hasim

Ketua Divisi Kerohanian Balitara

Email: hasimnur1995@gmail.com

Sebagai manusia Jawa yang sadar akan ke-jawa-annya, tentu kita harus mengetahui filosofi masyarakat Jawa yang telah turun-temurun hingga kini. Adapun kumpulan falsafah (filosofi) orang Jawa tentang kehidupan beserta arti penjelasannya yang berkaitan erat dengan pedoman hidup masyarakat Jawa, antara lain:

Pertama, filosofi dari “Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti” (segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak) artinya Sikap bijak adalah sikap seseorang yang dimana dalam menghadapi suatu permasalahan dilandasi dengan tenang dan tidak tergesa – gesa untuk menyelesaikannya. Orang bijak adalah orang yang sudah paham dan sudah mengerti tentang mana yang benar dan mana yang salah. Orang bijak dalam meberikan suatu keputusan selalu memikirkan akibat dari keputusannya tersebut. Orang bijak memiliki sikap yang tenang dan memiliki kelembutan hati yang mendalam dan punya sifat sabar.

Kedua, filosofi dari “Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara”, Artinya Manusia ketika hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak. Dalam kehidupan ini, semua manusia harus dapat mengupayakan segala sesuatu yang berkaitan dengan keselamatan, kebahagiaan, kesejahteraan dan menumpas sifat jelek yang berupa serakah dan tamak dan lain sebagainya. Karena sifat-sifat tersebut adalah sifat yang bisa membuat manusia menjadi rusak dan tidak beraturan.

Ketiga, filosofi dari “Urip Iku Urup” (Hidup itu Nyala), Artinya manusia ketika masih hidup hendaknya senantiasa memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang meresahkan masyarakat. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial, mankhluk yang tidak bisa hidup sendirian, makhluk yang senantiasa membutuhkan bantuan manusia yang lainnya dalam melakukan sebuah pekerjaan yang berkaitan dengan sosial atau orang banyak. Jadi, jika manusia punya jiwa sosial yang tinggi, maka dia akan menjadi manusia yang berguna dan bermanfaat di lingkungan sekitarnya.

Keempat, filosofi dari “Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman ” (Jangan mudah heran) artinya kita sebagai seorang manusia itu janganlah mudah terheran-heran dengan hal – hal yang baru dilihat, karena hal – hal tersebut belum tentu baik untuk kehidupan kita. Intinya, kita tidak boleh gampang terheran – heran dengan hal yang sifatnya baru. Filosofi dari “Aja Getunan” (Jangan mudah menyesal) artinya kita sebagai manusia itu janganlah suka menyesalkan sesuatu yang telah kita perbuat, karena kalau kita terus menyesal dan tanpa ada perubahan selanjutnya, maka kita akan menjadi manusia yang kurang percaya diri dalam menghadapi segala sesuatu. Intinya, penyesalan memang selalu ada dibelakang setelah kita melakukan suatu perbuatan, namun kita tidak boleh larut dalam penyesalan. Penyesalan tersebut harus kita jadikan sebagai pelajaran bagi kita agar kelak tidak melakukan perbuatan yang sama dan dapat membuahkan penyesalan dibelakangnya. Filosofi dari “Aja Kagetan” (Jangan mudah terkejut – kejut) artinya kita sebagai manusia tidak boleh terkejut dengan hal – hal yang baru kita lihat. Karena terkejut adalah sebuah reaksi seseorang terhadap suatu keadaan yang tidak diperkirakan atau diharapkan akan datang. Pada dasarnya, orang yang mudah terkejut dan kagum akan hal yang sifatnya baru adalah orang yang mempunyai jiwa yang lemah dan rapuh serta mempunyai sikap negatif antara lain tidak percaya pada dirinya sendiri, mudah dan gampang terpengaruh dan dipengaruhi oleh orang lain. Filosofi dari “Aja Aleman” (Jangan mudah kolokan atau manja) artinya kita sebagai manusia janganlah tergila – gila akan pujian dari orang lain, sedikit – sedikit berkeluh kesah atas apa yang dialaminya dan orang – orang yang cenderung manja atau aleman biasanya akan membesar - besarkan sesuatu yang kecil dan menganggap remeh atau menyepelekan sesuatu yang sebenarnya besar atau penting. Pelajaran yang bisa kita petik dari jangan mudah kolokan atau manja adalah hidup kita itu harus diperjuangkan dengan penuh kegigihan, namun tetap mengalirlah secara fleksibel dan bijak..

Kelima, filosofi dari “Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan” (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri, Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu). Artinya kita sebagai manusia harus mempunyai hati yang kuat apabila mendapatkan suatu perkara di luar keinginan kita, kita harus tetap tegar dalam menghadapi segala macam musibah dan berusahalah mengambil hikmah atau pelajaran dari peristiwa yang kita alami. Kita sebagai manusia, pasti punya yang namanya perasaan, entah itu perasaan gembira atau senang, susah, sedih, galau dan lain sebagainya. Setiap manusia pasti memilikinya, karena pada dasarnya perasaan tersebut sudah melekat pada diri manusia. Apabila kita mendapatkan sesuatu yang lebih, janganlah terlalu senang. Apabila kehilangan sesuatu yang amat berharga, janganlah terlalu larut dalam kesedihan. Karena kalau kita terlalu larut dalam kesedihan, maka kita tidak bisa menjadi manusia yang berkembang.

Keenam, filosofi dari “Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha”, (Berjuang tanpa perlu membawa massa) adalah berjuang sendirian dengan mengandalkan seluruh potensi yang kita miliki dan tanpa membutuhkan sekelompok massa atau orang banyak. Berjuang dengan menggunakan seluruh kemampuan yang kita miliki dengan semangat pantang menyerah, ketika kita jatuh maka kita bangkit lagi. Intinya setiap manusia harus memiliki semangat juang yang tinggi dalam menggapai sebuah cita – cita yang akan diraihnya. Berjuang tanpa membawa massa dalam hal ini berkaitan dengan mengalahkan diri kita sendiri, mengalahkan hawa nafsu. Filosofi dari “Menang Tanpa Ngasorake” (Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan) artinya kita sebagai manusia, apabila kita menang dalam suatu hal, maka kita tidak boleh sombong. Karena kesombongan merupakan sifat yang buruk bagi manusia. Ketika kita menang dalam sebuah turnamen atau pertandingan, baik itu yang berkaitan dengan kecerdasan, ketrampilan, olahraga, maka kita tidak boleh merendahkan atau mempermalukan lawan kita. Karena sifat merendahkan atau mempermalukan itu buruk bagi seorang manusia. Karena sifat tersebut tidak baik untuk manusia, maka janganlah merendahkan seseorang apabila kita ingin menang dari manusia yang lainnya. Janganlah suka merendahkan orang lain apabila kita ingin mengunggulkan pendapat kita sendiri. kita harus sadar, bahwa beda manusia beda cara berfikir dan bertindak. Filosofi dari “Sekti Tanpa Aji-Aji” (Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan) artinya kita sebagai manusia harus mempunyai wibawa yang baik dalam segala hal, karena wibawa adalah sifat seorang manusia yang mempunyai jiwa kepemimpinan yang baik. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa mengerti kondisi rakyatnya, pemimpin yang berkuasa dengan sistem pemerintahan yang baik, pemimpin yang bisa menggunakan kekuatannya dengan bijaksana untuk rakyatnya, pemimpin yang senang bersedekah kepada rakyatnya dengan harta kekayaan yang dimilikinya, pemimpin yang garis keturunan yang jelas alur nasabnya, jelas anggota keluarganya dan bisa menjadi pemimpin yang bisa mengayomi seluruh rakyatnya, baik yang kaya maupun yang miskin, baik yang sehat maupun yang sakit, pemimpin yang bisa menghargai rakyatnya dan lain sebagainya. Fiosofi dari “Sugih Tanpa Bandha” (Kaya tanpa didasari kebendaan) artinya kita sebagai manusia, harus memiliki pola pikir bahwa kekayaan seorang itu tidak dihitung atau tidak diukur dari jumlah harta yang dimilikinya, melainkan bisa dari pengetahuan yang dimilikinya, kebijaksanaan yang dimilikinya dan lain sebagainya.

Ketujuh, filosofi dari “Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo” (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah, Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat) artinya kita sebagai manusia, janganlah mudah tergiur oleh hal – hal yang yang sifatnya mewah atau cantik, indah. Karena hal – hal tersebut hanya bisa merusak pola pikir kita. Barang – barang yang tampak mewah dapat membuat diri kita lupa akan siapa sejatinya diri kita, maka dari itu janganlah punya keinginan untuk memiliki hal – hal yang tampak mewah, karena hal tersebut hnya bisa bertahan sebentar saja. Filosofi dari “Aja Mangro Mundak Kendo” (Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat) artinya kita sebagai manusia tidak boleh berfikir mendua atau ragu – ragu dalam melakukan sutau dalam hidup ini. Kita dalam menjalani hidup harus punya kemantaban, kita mantab bukan karena karena kekuatan kita sendiri melainkan karena ada daya kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa. Asal kita berpegang teguh hanya kepada-Nya, pastilah hidup ini akan mendapatkan keberkahan dari-Nya yang membuat kita justru peka dan peduli dengan orang disekitar lingkungan kita yang mengalami kesusahan.

Kedelapan, filosofi dari “Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka” (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tidak celaka) artinya kita sebagai manusia tidak boleh merasa paling benar dan paling pandai dari manusia lainnya. Karena ada pepatah yang mengatakan “diatas langit masih ada langit”, dari pepatah ini bisa kita simpulkan bahwa segala seuatu pasti ada yang lebih unggul daripada diri kita sendiri, maka dari itu kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita miliki saat ini. Karena merasa lebih pandai akan membuat kita menjadi manusia yang salah arah dan tidak tahu tujuan. Filosofi dari “Aja Cidra Mundak Cilaka” (Jangan suka berbuat curang agar tidak celaka) artinya kita sebagai manusia tidak boleh berbuat curang kepada siapapun. Curang adalah sikap yang tidak sportif atau sikap yang mengambil keuntungan dari orang lain dengan cara yang tidak baik. Seseorang apabila berbuat curang maka dia akan mendapat kerugian dari perbuatannya tersebut. Karena curang akan menimbulkan celaka atau musibah bagi orang yang melakukannya.

Kesembilan, filosofi dari “Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman” (janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi) artinya kita sebagai manusia, harus bisa mengendalikan sikap kita terhadap kedudukan jabatan, harta benda dan kenikmatan dunia. Karena hal – hal tersebut dapat membuat jiwa kita menjadi rapuh dan lemah dalam menjalani kehidupan ini. Karena pada dasarnya, segala keinginan yang kita angan – angankan akan membuat diri kita menjadi bingung dan tanpa ada tujuan yang jelas dalam menjalani hidup.

Kesepuluh, filosofi dari “Nerimo ing pandum” (menerima atas segala pemberian) Makna dari kata tersebut adalah mengandung Arti yang sangat mendalam dari seorang manusia yang menunjukan pada sikap kejujuran, keikhlasan, ringan dalam bekerja dan ketidakinginan untuk korupsi. Inti filosofi ini adalah Orang harus ikhlas menerima hasil dari usaha yang sudah dia kerjakan. Artinya sebagai seorang manusia, kita hendaknya bisa menerima apapun yang telah ditakdirkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Mampu menerima tanpa ada rasa mengeluh sedikitpun. Setiap manusia pasti punya takdir masing – masing, yang mana takdir tersebut berbeda – beda. Istilahnya tiap manusia punya jalan masing – masing, jalan yang harus ditempuh dan dijalani dengan tulus ikhlas lahir batin melaksanakannya.

Kesebelas, filosofi dari “Alon-alon waton klakon” (pelan – pelan tapi pasti bisa melakukan) artinya kita sebagai manusia harus bisa menjaga diri sendiri dan orang orang lain. Maksud dari filosofi ini sebenarnya berisikan pesan tentang safety/keselamatan. Padahal kandungan maknanya sangat dalam. Filosofi ini mengisyaratkan tentang kehati-hatian, waspada, istiqomah, keuletan, dan yang jelas tentang safety. Sebagai manusia, kita harus hati – hati dalam melakukan segala sesuatu, kita perlu ketlatenan atau keuletan agar membuahkan hasil yang maksimal, kita juga perlu waspada akan hal – hal yang dapat membahayakan diri kita, kita perlu mejaga keslamatan diri kita sendiri dan tak lupa juga keselamatan orang lain.

Keduabelas, filosofi dari “Aja Adigang, Adigung, Adiguno”, artinya kita sebagai manusia harus bisa menata dan menjaga kelakuan / tatakrama kita. Karena tata karma penting bagi seorang manusia. Dengan tata karma, kita dapat bergaul dengan siapapun. Bergaul dengan yang lebih tua, kita harus punya sopan dan santun, bergaul dengan yang lebih muda, kita harus bisa menjadi contoh yang baik bagi kaum pemuda. Jangan sombong dengan kekuatan, kedudukan, ataupun latar belakangmu. Artinya sebagai manusia kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita miliki saat ini, baik itu kekuatan, kedudukan ataupun yang lainnya itu hanyalah sebuah titipan dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang sewaktu-waktu bisa diambil. Maka dari itu janganlah sombong, karena sombong mendekati kekafiran.

Demikianlah dua belas filosofi hidup masyarakat Jawa yang sangat bagus untuk kita praktikkan. Semoga kita menjadi manusia Jawa yang benar-benar “jawa”, yakni manusia yang mbeneh. Kata “mbeneh” dapat dimaknai shalih fid dhahir wal bathin, artinya selaras antara kebajikan lahir dan batin. []


----------------------------------------

Dikeluarkan oleh BALITARA

Visi Balitara

Menjadi lembaga sosial yang unggul dan profesional di bidang kemanusiaan, kesenian dan, kebudayaan, pendidikan, kewirausahaan, kepariwisataan dan keagamaan untuk membangun sumber daya manusia yang mandiri, kreatif, inovatif, berkarakter dan berintegritas tinggi.

Misi Balitara

1. Menyelenggarakan berbagai layanan sosial kemanusiaan untuk membantu masyarakat dalam berbagai macam bidang.

2. Mengorganisir, mengelola dan bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait kesenian dan kebudayaan.

3. Menyelenggarakan dan mengelola berbagai macam kegiatan pendidikan, pelatihan, dan keagamaan yang berkualitas.

4. Mewujudkan kesejahteraan kehidupan masyarakat melalui kewirausahaan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, dan sumber ekonomi kreatif lainnya.

5. Menggali, mengelola, dan mengembangkan potensi-potensi pariwisata dalam tingkat lokal maupun nasional.

Alamat Balitara

Sanggar Patembayatan Balitara, Jl Masjid Baitul Makmur No. 9 Sekardangan RT. 03 RW. 09 Papungan Kanigoro Blitar Kode Pos 66171 Jawa Timur Indonesia. Kontak Person: Head of Public Relations BALITARA, Dhimas Ardiansyah 081232410001.

Comments


bottom of page